Kursi Bupati Harga Mati PDIP
andrian Sunaryo/ratu
Akbar Abbas
Akbar menyatakan, PDIP Trenggalek tidak ingin menjadi partai yang tidak memiliki kekuasaan di eksekutif. Karena itu, dibukanya pendaftaran ini, menunjukkan PDIP ingin merebut kursi bupati. “Bupati harga mati untuk PDIP, sedangkan cawabup terserah cabup PDIP, bisa berkoaliasi dengan partai lain,” kata pria yang menjabat ketua DPRD Trenggalek ini.
Permintaan Akbar Abbas, PDIP harus bisa mendapatkan kursi Bupati Trenggalek cukup beralasan.
Sebab, PDIP merupakan partai terbesar dalam mendapatkan kursi di dewan. Partai nomor urut 28 ini mendapat 8 kursi. Dengan memiliki 8 kursi tersebut, berarti di atas kertas, cabup PDIP tidak terlalu berat untuk merebut kursi Bupati. Tapi dengan catatan mesin politik partai tersebut berjalan seperti pada Pileg kemarin.
Kendati demikian, Akbar menilai kondisi pileg dengan pilbup mendatang sangat berbeda. Karena itu, meski mampu mengusung sendiri dan perhitungan di atas kertas unggul, tapi dipastikan Akbar tetap melakukan koalisi dalam pilbup mendatang. “Saat ini tidak mungkin partai mampu memberangkatkan sendiri, pasti tetap koalisi ini dilakukan memperkuat atau mendulang suara,” ujarnya.
Jika memang terjadi koalisi, menurut Akbar, koalisi yang ideal adalah nasionalis-religus. Ini melihat kultur dari masyarakat Trenggalek yang beragam ada nasional ada religus. Ketika ditanya apakah bakal berkoalisi dengan PKB?
Akbar menyatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bahkan tidak hanya dengan PKB, semua partai berazaskan Islam bakal dijajaki untuk koalisi. “Bisa dengan PKS, PAN atau juga dengan PKNU, sekarang ini kami masih menjajahi semua partai,” katanya.
Ketika disinggung apakah saat ini bacabup sudah ada yang melakukan pendekatan? Akbar menambahkan, sejauh ini ada beberapa bacabup mendekati secara informal ke PDIP agar bisa naik kendaraan PDIP dalam pilbup nanti. “Baik incumbent, tokoh masyarakat, politisi maupun pengusaha sudah ada yang datang kami,” ujarnya. (and)



