Kantongi Lisensi C, Ingin TAP ke Divisi II
DEKAT PEMAIN: Medi S Redondo memberikan instruksi pemain TAP dalam sesi latihan.
NAMA Medi S Redondo sudah tidak asing lagi bagi publik bola di Tulungagung. Maklum, dia sudah lama berkecimpung dalam sepak bola di Kota Marmer. Baik sebagai pemain maupun pelatih.
Pria berusia 33 tahun ini pernah tujuh tahun lamanya membela Perseta Tulungagung, mulai 1993-2000. Setelah gantung sepatu, Medidemikian dia biasa disapa-akhirnya menekuni profesi pelatih. Hal itu diawali saat dia menangani sekolah sepak bola (SSB) Sinar Jaya Setelah itu lama di SSB, dia lantas mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih di klub yang pernah memperbesarkan namanya Perseta. Salah satunya mendampingi pelatih Yance Metmay yang menukangi Perseta Junior maupun senior. Kala itu, tim yang dibesutnya berhasil masuk Zona Jawa Divisi III Setelah adanya pergantian pelatih, Medi pun kembali ke habitatnya semula, yaitu di SSB. Akhirnya dia berlabuh di SSB Tulungagung Putra (TAP). Meski berkiprah di SSB namun prestasi yang ditorehkan sangat membanggakan. Bersama pelatih Aris Ariadi, Medi berhasil membawa TAP juara nasional Piala Danone pada 2008. Kesuksesan itu juga sekaligus mengantarkan TAP bermain di level internasional di Perancis. Sayang, dia tidak ikut ke Perancis karena jatah pelatih hanya satu orang. “Sedih juga tidak ikut ke Perancis. Tapi sayabisa mengerti karena itu keputusan dari pihak Danone,” kata Medi. Sejak saat itu, prestasi kepelatihan Medi terus menanjak. Terlebih karena Medi baru saja menempuh kursus pelatih untuk lisensi C nasional. Dia berhasil membawa TAP juara II Piala Spech di Sidoarjo. Keberhasilan itu membuat dia dipercaya menangani tim Divisi III TAP Hasilnya, dia membawa TAP lolos ke babak kedua yang sampai sekarang belum bergulir. “Kami terus mempersiapkan diri untuk menghadapi babak kedua. Harapannya tentu TAP nanti bisa lolos lagi,” ujar Medi. Selama melatih, pelatih yang masih melajang ini dikenal selalu dekat dengan pemain. Selama menangani tim tidak pernah bermasalah dengan pemainnya. Komunikasi dengan anak asuhnya selalu cair. “Kuncinya keterbukaan. Kita tidak boleh hanya memberikan instruksi saja. Tapi, kita juga perlu mendengar apa masalah yang dihadapi pemain. Minimal, apa yang dikeluhkan mereka harus didengar. Dengan demikian, akan terjalin komunikasi dua arah,” beber Medi. Bagaimana rencana kedepan? Medi mengaku belum punya ambisi yang muluk-muluk. Saat ini waktunya difokuskan untuk menukangi TAP yang sedang berlaga di kancah kompetisivisi III Regional Jatim. Dia ingin tim yang dibesutnya tersebut bisa masuk Zona Jawa. “Harapannya TAP bisa lolos ke Divisi II dulu. Setelah itu, dipikirkan nanti,” tegasnya