Penghuni RSUD dr Soedomo Tidak Bisa Nyoblos
Ter paksa Golput : Para perawat di RSUD dr Soedomo tunjukkan kartu pemilih.
Itu dikarenakan, mereka tidak memiliki formulir A7 yakni formulir tempat pindah nyoblos. Dengan tidak memiliki A7, berarti mereka tidak bisa mencoblos.
Berdasar pantauan Radar Trenggalek, hanya satu orang yang bisa mencoblos di RSUD dr Soedomo. Yakni Siti Mardiyah, 56, Warga Ngantru, Kecamatan Trenggalek. Dia mencoblos di ruang pavilin saat KPPS mendatangi ruang tersebut. Siti Mardiyah ini bisa nyoblos, karena dia memiliki formulir A7. “Sebelumnya kami mengurus untuk mendapatkan formulir A7, sehingga kami bisa mencoblos di rumah sakit,“ungka Burhan, salah satu keluarga pasien. Lanjut dia, sebenarnya pihak rumah sakit, sudah memberitahu kepada pasien dan keluarga tiga hari sebelum pencoblosan agar mengurus A7. Mendapat sosialisasi tersebut, pihaknya mengurus. Sehingga, ketika coblosan tetap memilih. Jika Siti Mardiyah bisa mencoblos, tapi kondisi ini berbeda dengan keluarga pasien Sucipto,36, warga Nglinggis,Kecamatan Tugu. Dia tidak bisa menggunakan hak pilihny karena tidak memiliki kartu A7. Dia menyatakan, sebenarnya dalam hatinya ingin ikut dalam pilkada, tapi karena tidak memiliki A7 maka tidak bisa mencoblos. “Apa boleh buat, saya kan hanya membawa kartu penggilan saja,”tuturnya.
Ditemui secara terpisah, Kepala Sub Bagian Umum (Kasubag Umum) RSUD dr Soedomo Trenggalek, Ratno Kurniadi menjelaskan, sejak menerima pemberitahuan dari Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK) pada Senin (31/5) terkait persyaratan pencoblosan di rumah sakit. Pihaknya langsung mensosialisasikan ke seluruh pasien dan keluarga pasien yang tinggal di rumah sakit, serta perawat untuk mengurus A7.
“Setiap hari selalu kami umumkan agar pasien, perawat dan keluarga yang menunggu untuk mengurus A7, sosialisasi ini melalui pengeras suara,” katanya. Jika hasilnya petugas hanya menemukan sedikit yang menggunakan hak pilihnya dia tidak mengetahui. “Kami telah berusaha maksimal,” ujarnya.
Dia menduga, untuk mengurus persyaratan pencoblosan tersebut, keluarga tidak banyak memiliki waktu. Karena waktunya sebagai besar tersita menemani keluarganya yang sakit. Sementara itu, anggota KPPS 02 Tamanan, Karyoto menyatakan, sebagian besar pemilih di rumah sakit ini hanya membawa kartu pemilih dan surat penggilan. “Sebenarnya mereka antusias, tapi syaratnya kurang, sehingga tetap kami tolak”tegasnya.

