Rp 40,5 Miliar Nganggur
PONOROGO – Kinerja aparatur Pemkab Ponorogo kembali jadi sorotan. Khususnya, dalam pengelolaan keuangan daerah.
Pada pelaksanaan anggaran tahun 2009 ditemukan kas yang nganggur. Tak tanggung-tanggung, nilainya mencapai Rp 40,5 miliar. ‘’Nilai segitu sangat besar untuk ukuran anggaran pemkab,’’ terang Sunarto, anggota komisi B DPRD setempat, kemarin (23/6). Kas daerah (kasda) yang nganggur itu disebut sisa lebih pelaksanaan anggaran (silpa). Tingginya nominal silpa, menurut Sunarto, merupakan indikasi buruknya kinerja eksekutif. Yakni, lemahnya perencanaan sekaligus pelaksanaan progam. ‘’Besarnya silpa itu menunjukkan dalam perencanaan terlalu longggar karena kurang estimasi,’’ ujarnya. Selain perencanaan yang kurang akurat, Sunarto menyatakan besarnya nilai silpa menunjukkan penyerapan angaran lemah. Akibatnya, banyak progam kerja tak terealisasi. Sehingga, dana yang harusnya digunakan membiayai progam tidak bisa dicairkan. ‘’Evaluasi kami memang cukup banyak progam yang tak terealisasi sehingga nilai sisa lebih itu cukup besar,’’ jelasnya. Untuk itu, dalam waktu dekat komisi bidang perekonomian itu akan memanggil lagi badan keuangan dan pengelolaan asset daerah. Itu dilakukan untuk mengklarifikasi satker-satker mana yang silpanya tinggi. ‘’Evaluasi dilakukan dalam rangka persiapan perubahan anggaran keuangan (PAK) mendatang, biar tidak salah estimasi lagi,’’ tandasnya.Sebalinya, pihak pemkab melalui Kabag Humas Joni Widarto, mengatakan tingginya angka silpa justru mengindikasikan prestasi pemkab. Di mana satker mampu mengelola keuangan secara efektif dan efisien. ‘’Kalau sekadar menghabiskan bisa saja, tapi sekarang ini kan anggaran berbasis kinerja,’’ kilahnya. Dijelaskan, tingginya silpa disebabkan karena sisa hasil lelang kegiatan. Di mana jika dalam anggaran kegiatan dibiayai Rp 1 miliar, setelah melalui lelang dicapai kesepakatan harga sekitar Rp 950 juta. Sehingga ada sisa lebih Rp 50 juta. ‘’Sisa-sisa seperti itu dikumpulkan dari berbagai satker jadinya Rp 40,5 miliar. Jadi bukan uang ngganggur,’’ tepisnya.