Demo
BLITAR – Aksi solidaritas penyerangan oknum aparat terhadap sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada Kamis (3/3) di Makasar terjadi di Blitar. Kemarin, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Blitar berunjuk rasa di depan Mapolresta Blitar. Mereka memulai aksinya sekitar pukul 10.00 dari area taman makam pahlawan. Aksi yang berjalan sekitar satu jam ini berlangsung tertib, dengan berjalan kaki mereka berorasi menuju Mapolresta Blitar.
Sebelum sampai, mereka sempat berorasi di bundaran PGSD. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan, antara lain usut tuntas oknum aparat atas penyerangan sekretariat HMI di Makasar, reformasi di tubuh Polri, tegakkan supremasi hukum, penegakan hukum harus profesional, tegakkan demokrasi, usut tuntas kasus Century dengan tidak mengalihkan isu lain, dan rasa keprihatinan mendalam terhadap penyerangan secretariat HMI Makasar.Untuk mengamankan, aparat kepolisian sudah siaga agar unjuk rasa berjalan lancar. Dalam aksi kali ini, mahasiswa ditemui Wakapolresta Irfan Sutanto. Dia menemui massa mewakili Kapolresta Blitar AKBP Arif Agus Marwan. Dalam pertemuan kemarin, dia mengapresiasi semua bentuk penyampaian pendapat di muka umum. “Semua apresiasi akan kita tindak lanjuti,” kata Irfan kemarin.
Dia juga menghimbau kepada massa, melihat isu yang sedang berkembang, pihaknya berharap massa tidak mudah terprovokasi.Sementara itu, Faturohman Efendi, ketua HMI Blitar, dalam pernyataannya mengatakan, aksi HMI ini merupakan bentuk solidaritas penyerangan oknum aparat terhadap sekretariat HMI di Makasar. Aksi ini juga menuding penyerangan tersebut adalah sebagai bentuk upaya pelemahan terhadap gerakan mahasiswa. “Aksi ini merupakan instruksi dari kantor pusat HMI,” ungkapnya.Mereka meminta, seluruh oknum yang terlibat dalam insiden tersebut diberikan sanksi dan proses hukum yang seadil-adilnya. Pihaknya juga menegaskan, bahwa mahasiswa khususnya HMI dan aparat polisi tidak bermusuhan. Dalam aksi kali ini, massa terdiri dari elemen HMI dari beberapa kampus yang ada di Blitar dan Tulungagung.
Di tengah unjuk rasa, selain menyampaikan orasi bebrapa mahasiswa juga menampilkan pembacaan puisi keprihatinan terhadap kondisi bangsa serta penampilan aksi treatrikal yang menggambarkan carut marutnya penegakan hukum di Indonesia.


