Tak Mudah Sebut Gizi Buruk
Hal itu diungkapkan Kepala bidang (Kabid) Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kesehatan (PSDMK), Ana Sapti Saripah.
Menurut Ana, ada tiga kriteria menentukan status gizi balita.
Salah satunya menggunakan Standar baku Antropometri (world Health Organization) WHO- National Center for Health Statistic NCHS yang berdasarkan Z-skor.
Dimana di dalam Z-skor meliputi penghitungan Berat Badan (BB)/ usia (U),Tinggi Badan (TB)/Usia, BB/TB. Nah, jika dari penilaian Z skor kurang dari -3 SD (Standar Deviasi) diperlukan perhatian khusus.
Lanjut Ana Sapti Saripah,memang dari 59.547 jiwa balita di Tulunggung ditemukan kurang lebih 1.669 atau 0,35 persen anak Bawah Garis Merah (BGM). Atau lebih redah dari angka nasional balita kurang gizi 15 persen.“ Intinya balita BGM tak masuk kategori gizi buruk,” ujar ibu berkerudung.
Ditambahkan dia, dari perhitungan melalui Z skor ada 60 balita, 39 diantaranya perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab, balita tersebut menderita penyakit bawaan antara lain Kelainan jantung, Microsephalus, Hisbrung.
Sementara itu, awal Januari 2010 hanya 37 balita dalam perhatian khusus. Artinya 23 balita sudah mengalami peningkatan status gizi. “Tapi kami terus pantau perkembangan balita tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Triswati Sasmito menyatakan, berkurangnya balita yang perlu perhatian gizi, itu karena telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar dan rujukan. Mulai di posyandu sampai dengan Rumah Sakit (RS) Provinsi dan Pusat didampingi oleh petugas kesehatan setempat.
Serta dilakukan peningkatan gizi balita dengan cara pemberian bantuan susu, vitamin, pemberian biskuit dari Dinkes Tulungagung, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten. “Pemberian penyuluhan dan konsultasi oleh petugas kesehatan ,baik di Puskesmas dan jajarannya maupun kunjungan rumah terus di lakukan,” jelasnya.
Namun bukan berarti sisa balita BGM 1.609 jiwa dibiarkan tetap mendapatkan perhatian dari semua pihak, berupa pendampingan gizi dilakukan bersama-sama dengan lintas sektor di kecamatan dan Desa sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dan tetap dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar dan rujukan. Mulai dari penjaringan di Posyandu, Polindes, Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit kabupaten sampai dengan RS Provinsi dan pemberian penyuluhan dan konsultasi oleh petugas kesehatan, baik di Puskesmas dan jajarannya maupun kunjungan rumah. (din/adv/and)

