Dana APE Cekak, Guru PAUD Harus Kreatif
Minimnya anggaran untuk APE membuat, guru-guru PAUD dalam memberikan edukatif kepada anak-anak kurang maksimal. “Bagaimana mau maksimal, jika sarana dan prasana kurang, ketika ingin menunjukkan siswa tentang alat-alat, tapi karena tidak ada, terpaksa guru-guru mengalihkan ke yang lain,” ungkap Kasi PAUD Diknas Tulungagung Puji Hartutik.
Menurut Puji Hartutik, dana sebesar Rp 15 juta tersebut tidak hanya digunakan APE, tapi dipakai untuk membeli alat tulis kantor (ATK). Sehingga dipastikan dana Rp 15 juta yang dibagikan ke tujuh lembaga tersebut tidak akan terserap beli permainan untuk anak-anak.
Ketika ditanya kenapa dana APE turun? Puji menyatakan, pihaknya tidak tahu secara pasti. Namun, berdasar informasi yang diterima, dana APBD tahun ini lebih digunakan hal-hal yang lebih penting. “Katanya ada kepentingan yang lebih mendesak, ketimbang APE,” ujarnya.
Dia melanjutkan, jika dibanding tahun lalu, dana tersebut jauh lebih besar. “Kurang lebih sekitar Rp 50 juta, sehingga PAUD bisa memaksimalkan proses belajar dan bermain anak didiknya,” katanya.
Puji menyatakan, seharusnya PAUD tidak boleh dianak tirikan. Sebab, ketika anak mendapatkan pembelajaran secara maksimal sejak dini, dipastikan kelak saat mereka tumbuh dewasa, mereka bisa terarah. “Justru dengan PAUD, bakat dan minat bisa diketahui, dengan begitu orangtua tinggal memfasilitas kemauan anak tersebut,” ujarnya.
Namun, jika PAUD dianak tirikan, tidak menutup kemungkinan, bakat dan minat anak tersebut tidak diketahui. Apabila kondisi tersebut dibiarkan, kemungkinan besar anak terlambat dalam mengetahui minat dan bakatnya. “Karena itu, pihaknya berharap pemkab tidak mengecilkan PAUD,” katanya. (and)



