Guru Swasta Terancam Gusur
BUTUH PERHATIAN: Suasana SMK Tri Jaya di Jalan Pamungkur yang tiap penerimaan siswa baru (PSB) berharap banyak yang mendaftar.
atau gaji tidak bulanan melainkan per jam untuk setiap mata pelajaran. Satu jam mengajar rata-rata honornya Rp 10 ribu. Sementara jam mengajar para guru berbeda-beda, bergantung pada kebijaksanaan yayasan atau lembaga. Jika dalam sekolah swasta yang kondisi serta situasi lembaganya cukup, mendapat jatah mengajar 24 jam dalam satu bulan. Sehingga dalam satu bulan mendapat gaji Rp 240 ribu. “Tergantung sekolah, gimana enaknya. Ada yang mendapat jam ajar 24 jam setiap bulan, namun ada pula yang hanya sepuluh jam. Berarti, kan hanya 100 ribu honornya,” tambahnya. Diakuinya, memang pemkot dalam hal ini dikda sudah mengalokasikan semacam anggaran untuk guru swasta. Namun, belum sepenuhnya sreg di hati guru. Anggaran dalam bentuk insentif itu diterimakan setiap bulan yang besarnya Rp 200 ribu. Namun, insentif itupun menurut sejumlah guru swasta belum banyak membantu. Karena jauh dari harapan dan tidak nyucuk dengan kebutuhan sehari-hari. “Memang ada, tetapi yaitu tadi lah. Masih kurang, sementara mau masuk PNS susah,” tambahnya. Sementara itu, Kepala SMK Islam Kota Blitar Solichin mengakui jika keberlangsungan sekolah bergantung pada jumlah siswa. Tak heran, jika fenomena sekolah swasta kembang kempis penyebabnya karena jumlah siswa yang sangat minim. “Kalau tidak ada siswa kan honor dari pengajar kan tidak berjalan,” katanya. SMK Islam menurutnya saat ini memang masih dalam taraf kondisi aman. Jumlah siswa yang mendaftar dari tahun ke tahun masih cukup. Namun, dia tidak menampik ada sekolahsekolah yang harus mati-matian mencari siswa demi keberlangsungan sekolah itu sendiri. “Kaitannya dengan keberadaan gurulah. Makanya kami minta regulasi dari sekolah harus tegas. Kuotanya harus ditata, demi pendidikan di Kota Blitar,” katanya. Seperti diketahui, Kota Blitar muncul fenomena model pendidikan baru. Yakni keberadaan kelas siluman. Model sekolah ini mengadopsi sekolah siswa negeri tetapi lokasi tempat belajarnya di sekolah swasta. Minat calon siswa lebih sreg sekolah di kelas siluman ini karena mendapat jaminan ijasah dari sekolah negeri, meski kegiatan belajar mengajarnya di sekolah swasta. Dikda sendiri mengakui. Alasannya, untuk menghidupkan dan menumbuhkan citra sekolah swasta. Fenomena itu sempat diprotes sejumlah sekolah swasta. Karena dengan kelas siluman dianggap sebagai pengkebiri sekolah swasta dan mematikan secara perlahan-lahan

