Radar Tulungagung, Jawa Pos Group, Jl. Panglima Sudirman 50A Tulungagung, Jawa Timur Indonesia
Jumat 30
Juli

Anjal Minta Pelatihan

0305blt4
Foto: ridha erviana/radar blitar
LURUK DINSOSNAKER: Para Anjal saat dialog di kantor Dinsosnaker kemarin.
BLITAR – Kantor Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Blitar diluruk puluhan anak jalanan (anjal) kemarin. Mereka menanyakan tentang anggaran pemberdayaan anjal yang tidak pernah diterimanya. Untuk itu mereka meminta bantuan berupa peralatan maupun pelatihan kerja.

Koordinator anjal Anto Hud, 22, di Kota Blitar sedikitnya ada 200 anjal. Di dalam APBD mereka diperhatikan dengan pengalokasian anggaran. Namun anggaran itu dirasakan tidak pernah sampai kepadanya. Untuk mereka alokasi anggaran itu agar disosialisasikan secara terbuka kepada anjal.

“Selama ini kami tidak pernah tersentuh dana yang katanya untuk kami,” tutur Anto.

Dia menambahkan, sebagai warga Kota Blitar, punya hak yang sama untuk memperoleh dana untuk pelatihan maupun bantuan dana pendidikan. “Jadi biar kami juga tidak dianggap sebagai sampah masyarakat, bagaimana cara pemerintah memperhatikan kami,” ujar Anto.

Para anjal tersebut rata-rata bekerja sebagai tukang parkir liar, pengamen, maupun pekerjaan serabutan lainnya. “Sampai saat ini kami ndak pernah disosialisasikan,” tukas Anto.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Dinsosnaker Kota Blitar Santi Laksmi mengungkapkan tiap tahun memang selalu ada pelatihan untuk anjal. Namun, tidak sembarangan anjal yang diberikan pelatihan. Sebab, para anjal yang selama ini mendapatkan jatah dari dana APBD merupakan anjal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Anak Jalanan. “Mereka juga tidak bisa asal meminta. Harus melalui proposal,” tutur Santi.

Tuntutan para anjal kemarin, menurut Santi, kurang pas. Jika memang mereka menginginkan mendapatkan pelatihan dan bantuan, bisa melalui Forum Komunikasi Anjal. Sebab, sesuai prosedur, yang diakui pihak dinsosnaker sebagai wadah anjal yang patut diberi pelatihan adalah forum komunikasi anjal tersebut. “Atau kalau tidak bergabung ya membuat proposal untuk pelatihan,” ujar Santi.

Dari data yang ada, pada 2009 terdapat dana sebesara Rp 10 juta yang ditujukan untuk forum komunikasi anjal. Namun, juga tidak semua anjal mendapatkan bagian. Selain dana tersebut, juga disumbang 10 mesin jahit. “Jadi, memang ditujukan kepada keluarga-keluarga anjal ya. Jadi biar lebih berdaya guna,” tutur Santi. Sedangkan pada 2010 ini, terdapat dana Rp 16.960.000 yang akan dialokasikan untuk sedikitnya 10 keluarga anjal. Selain itu, untuk memberikan pelatihan dan peralatan keterampilan anjal.

Santi menegaskan, para anjal tidak bisa asal tuntut dan minta. Dia menyarankan, jika para anjal yang ngluruk kantornya kemarin ingin mendapatkan pelatihan bisa mengajukan proposal dulu. Sehingga pihaknya bisa mengalokasikan dana untuk pelatihan. “Kita kan mengajukan dana juga lewat proposal. Jadi juga tidak sembarang anjal begitu,” ujar Santi. (cr-1/cam)

 

>